Sabtu, 15 April 2017



Klitikan Pelajar
Oleh: Mulkhan Andreza

Akhir-akhir ini maraknya kasus klitikan di jogja yang meresahkan seluruh masyarakat maupun pendatang di kota pendidikan ini. Sungguh ironi jika kita melihat klitikan ini dilakukan oleh beberapa pelajar di jogja. Kegiatan ini biasanya dilakukan bergerombolan atau ber-geng yang mana mereka akan turun ke jalan-jalan untuk melakukan kekerasan. Biasanya ada yang mereka targetkan, tapi sekarang siapapun bisa menjadi korbannya.
Klitikan merupakan PR besar buat pemerintah jogja untuk menuntaskan kasus ini. Karena menurut pengakuan salah satu pelajar, klitikan merupakan kegiatan yang sudah turun-menurun di kalangan pelajar khususnya di daerah jogja. Dan tidak lepasnya juga dari peran guru-guru di sekolah untuk memantau atau mengal murid-muridnya. Karena klitikan ini berawal dari geng-geng yang berada di sekolah-sekolah. Maka pihak sekolah harus memahami dan menanamkan nilai-nilai atau norma-norma yang baik kepada seluruh muridnya agar mereka tidak melakukan yang bisa melukai orang lain.
Harapan penulis, jogja bisa kembali aman lagi dan tentramn untuk seluruh pelancong dan para pendatang khususnya. Mahasiswa yang sedang mencari ilmu di kota pendidikan ini. Karena sunggu ironi jika para pelajarnya melakukan aksi kekerasan yang tidak mencerminkan kota pendidikan ini.


Krisis Pendidikan Moral Generasi Muda
Oleh: Cut Wilda M. Shafira

Generasi muda memiliki peran sebagai  penerus bangsa, tetapi yang Nampak di generasi muda di negeri ini tampak berbeda. Berbeda karena kasus-kasus yang muncul,akhir-akhir ini yang ditimbulakn oleh gerasi muda yang bisanya sering disebut denga pemuda.
Kita tentu masih ingat tentang “Klithih”, kasus Yuyun, kasus Eno, tawuran dan lain sebaginya. Sebagai pelaku kasus terssebut adalah geneasi muda yang masih mengenyam pendidikan bisa dikatakan statusnya adalah pelajar. Bagaimana mungkin seseorang yang mengenyam pendidikan dapat melakukan hal-hal yang tidak terpuji bahkan terkesan keji? Apakah yang melatarbelakangi kasus tersebut?apakah moral bukan sesuatu yang berharga lagi? lantas bagaimana masa depan bangsa dengan banyaknya kasus yang dilakukan oleh sebagian besar kaum pelajar?
Beberapa latar belakang yang ada berawal dari diri sendiri dan keluarga. Generasi muda memang dibentuk dari keluarga. Maka keluargalah yang memiliki peran besar membangun pondasi baik berupa agama dan akhlak yang harus dimiliki generasi muda saat ini. Karena ilmu pengetahuan dan keterampilan itu dapat dipelajari.


Kontroversi Ujian Nasioanl di Institusi Pendidikan
Oleh: Hutri Hamida

Sudah sering kitta dengar, gonjang ganjing atas pelaksanaan Ujian Nasional yang memiliki banyak kontroversi dalam dunia pendidikan. Di tahun 2017 ini pendidikan nasional dihapuskan. Adapun pro-kontra yang terjadi sempat membuat dunia pendidikan menglami sorotan yang cukup tajam.
Di mulai dari tidak jelasnya anggaran biaya yang di gelontorkan pemerintah, dan banyaknya kasus-kasus kebocoran soal UN yang dinilai memperburuk dunia pendidikan dalam meningkatkan kualitas generasi penerus bangasa. Serta UN yang dinilai sebagai penentu kelulusan siswa yang belajar selama 3 tahun.
Banyaknya kontra yang di layangkan banyak masyarakat dan teman-teman media membuat ujian nasional bukan sebagai syarat wajib bagi sekolah sebagai penentu kelulusan siswa.
Sehingga penghapusan ujian nasioal pada institusi pendidikan memiliki tanggapan yang cukup baik dari masyarakat pada umumnya serta memberikan peluang bagi dunia pendidikan untuk memperbaiki system pendidikan dalam melaksanakn hajat pendidikan yang berkualitas.


Ilusi Kebahagiaan Hari Wisuda
Oleh: Maulana Iskandar

Wisuda, sepatah kata yang menjadi harapan setiap insan yang memaski dunia pendidikan di perguruan tinggi. Rombongan keluarga berbondong-bondong dating ke kota untuk menyaksikan hari bersejarah dalam kehidupan mahasiswa. Ratusan mahasiswa berpakaian lengkap dengan toganya memenuhi gedung pelepasan wisudaan-wisudawan. Pedagang-pedagang kecil memadati kawasan sekitar gedung dengan beraneka ragam aksesoris dagangannya. Mulai dari bunga, boneka, minuman sampai pedagang bakso.
Dibalik meriahnya upacara itu, tersimpan harapan dan juga tantangan. Banyak mahasiswa yang meluapkan kegembiraannya melalui berbagi hal, menangis, ketawa lebar-lebar dan mentraktir kawan-kawannya. Namun ada suatu hal yang harus digaris bawahi. Setelah wisuda kalian mau apa?, disinilah terjadi banyak delima setelah prosesi yang seneriah itu. Bingung dan bimbang, dua kota yang mungkin bisa menggambarkan keadaan mahasiswa setelah melewati hari wisuda, mau cari kerja dimana, mau lanjut S2 diamana. Rangkaian pertanyaan ini mulai mendatanginya.
Rencana-renacananya merupakakn hal yang penting untuk dibuat dalam menjalani perkuliahan, agar setelah wisuda tidak hanya menikmati indahnya ilusi kebahagiaan wisuda, tapi juga menikmati indahnya kebahagiaan secara nyata.


Guru Tak Kompeten
Oleh: Itsna

Komponen dalam dunia pendidikan salah satunya adalah guru. Duru sebagia seorang penyampaiestafet pengetahuan dituntut untuk memiliki kompetensi yang mumpuni.
Seorang guru diharapkan mempunyai kompetensi untuk menunjang keberhasilan proses pembelajaran. Namun pada kenyataannya banyak guru yang masih menggunakan pola mengajar seperti sungai yang mengalir, hanya mengikuti arus. Tak ada perubahan memotivasi yang dilakukan oleh guru.
Adapula guru yang mengabaikan soft skill yang ada pada dirinya. Guru tidak berusaha untuk menggali potensi yang ada pada dirinya untuk kemudian diperaktekan dalam pembelajaran.
Guru juga tidak disebut kompeten dilihat dari kepribadiannya dan bagaimana ia berinteraksi dengan sekitarnya. Guru yang seperti ini cenderung tidak professional dalam proses pembelajaran. Pada akhirnya guru yang seperti ini berdampak buruk bagi output yang nantinya dihasilkan oleh peserta didik.